Sabtu, 21 Agustus 2010

CENGKOK DAN GRENEK DALAM BIOLA MELAYU

Rizaldi*
Abstrak. Bentuk-bentuk ornamentasi melodi dalam musik Melayu sering disebut dengan istilah cengkok dan grenek yang fungsinya adalah untuk memperindah jalannya melodi lagu baik yang dimainkan oleh instrumen maupun yang didendangkan penyanyi. Tanpa hiasan cengkok dan grenek melodi itu terasa kering dan kaku.


Pendahuluan
Dalam sebuah ensambel musik tradisional Melayu, baik Melayu Deli (Medan), Melayu Asli (Malaysia) maupun Melayu Minangkabau (musik gamat), ada dua instrumen pembawa melodi yang sangat penting yaitu biola dan akordeon.1 Pada musik Melayu Deli dan Melayu Asli (Malaysia) instrumen yang digunakan adalah biola, akordeon, gendang ronggeng, dan gong; sedangkan pada musik gamat (Melayu Minangkabau) insaturmen yang digunakan adalah biola, akordeon, gitar dan gendang panjang (dua muka).

Seorang pemain biola dalam musik tradisional Melayu boleh dikatakan tidak dilahirkan melalui lembaga pendidikan musik formal seperti: akademi, sekolah tinggi, dan institut, tapi ia dilahirkan dan dibentuk dari “guru ke guru” . Biasanya guru yang sedia mewariskan keahliannya adalah orang-orang terdekat dari pemain biola tersebut seperti bapak, paman, kakak atau saudara dekat lainnya. Untuk mematangkan dirinya, ia belajar kepada pemain-pemain biola lain yang dianggapnya mempunyai suatu kelebihan daripada guru-guru sebelumnya. Kemudian, semua gaya keterampilan yang sudah dipelajari dari beberapa orang guru tersebut dimantapkan secara autodidak. Semakin banyak guru yang membimbingnya semakin kaya ia dengan pengalaman, karena setiap guru biasa punya kelebihan masing-masing yang berbeda satu dengan yang lain. Misalnya guru A lebih mahir dalam teknik gesekan; guru B hebat dalam intonasi (ketepatan nada) sehingga dalam permainannya jarang terdengar nada yang sumbang; guru C sangat pandai memberi bunga-bunga melodi berupa cengkok dan grenek, sehingga tiap kalimat melodi yang dimainkannya bila dinikmati tidak terasa membosankan, walaupun dimainkannya berulang-ulang.

Dalam artikel yang pendek ini penulis ingin berbagi secuil pengalaman dengan para pembaca sehubungan dengan cengkok dan grenek dalam biola Melayu atau lagu Melayu ; apa fungsinya, bagaimana bentuknya dan di mana tempatnya dalam sebuah melodi.

Cengkok dan Grenek Sebagai Bunga Melodi
Kedua istilah ini (cengkok dan grenek) banyak digunakan dalam musik Melayu Deli (Medan); pada musik gamat (Melayu Minangkabau) istilah ini desebut garinyiak dan variasi; tapi dalam musik Melayu Asli (Malaysia) kedua istilah ini tidak ditemukan walaupun prakteknya dilakukan oleh para pemain biolanya. Di sini dapat dipahami bahwa istilah pemberian nama sesuatu teknik permainan nada hias (ornamentasi) bagi kalangan pemusiknya tidak begitu penting, malah kadang-kadang mereka (para pemusik) tersebut memberi nama dengan istilah yang umum sekali, misalnya “bunga melodi”. Dengan istilah bunga melodi itu orang sudah tahu bahwa yang dimaksud adalah hiasan untuk memperindah sebuah melodi lagu.
Bentuk-bentuk ornamentasi melodi dalam musik Melayu biasanya disebut dengan istilah cengkok dan grenek yang fungsinya adalah untuk memperindah jalannya melodi lagu baik yang dimainkan oleh instrumen maupun yang didendangkan penyanyi. Tanpa hiasan cengkok dan grenek melodi itu terasa kering dan kaku. Cengkok merupakan nada hias (ornamentasi) yang bentuknya berupa rangkaian melodi yang tersusun dalam bentuk kuartol, kuintol, sektol, septimol, oktol, dan novemomol. Melodi-melodi cengkok itu biasanya ditemukan pada nada-nada yang berduarasi panjang misalnya durasi 1 ½ , 2 , 2 ½ , dan 3 ketukan yang dilahirkan secara improvisasi. Nilai-nilai not yang sering digunakan untuk membuat cengkok melodi lagu biasanya bentuk kuartol (4 nada dalam satu ketukan), kuintol (5 buah nada dalam satu ketukan), sektol (6 buah nada), septimol (7 buah nada), dan malah ada berbentuk novemol yaitu 9 buah nada dalam satu ketukan.
Grenek merupakan sebuah teknik membuat nada hias untuk memperindah pembawaan melodi lagu baik untuk musik vokal maupun instrumental; dalam musik vokal tekniknya yaitu dengan menggetarkan suara dengan nada rapat seperti vibrato pada musik Barat, sedangkan grenek untuk instrumen biola teknik memainkannya hampir sama dengan teknik triller yaitu menggetarkan jari secara capat dalam dua buah nada yang berbeda dalam satu ketukan atau lebih. Prinsip utama yang membedakan cengkok dan grenek adalah pada bentuk lompatan nadanya. Misalnya pada cengkok sebuah melodi dapat saja dimainkan 7 buah nada atau 8 buah nada dalam satu ketukan, tapi langkah interval melodinya bervariasi antara sekond, terts, kuart, kuint dan sebagainya. Akan tetapi, pada melodi grenek, interval nada yang dimaikan hanya berbentuk sekond naik atau sekon turun, artinya dua buah nada yang dimainkan secara berulang dengan nilai not 1/32 atau 1/64. Agar pengertian cengkok dan grenek yang sudah diuraikan diatas dapat di pahami dengan jelas dalam prakteknya penulis akan memberikan contoh-contohnya sebagai berikut.


Cuplikan notasi di atas diambil dari sebuah lagu gamat (Melayu Minangkabau) yaitu Buruang Putiah. Notasinya ditulis dalam dua buah garis paranada, notasi yang ditulis pada garis paranada di atas adalah dalam bentuk cengkok dan grenek; sedang notasi yang ditulis pada garis paranada di bawah merupakan notasi melodi batang.

Pada bar 2 ketukan pertama garis paranada yang di atas dapat dilihat contoh grenek yaitu berupa serangkaian melodi yang memainkan dua buah nada saja (f dan e) secara berulang-ulang dengan nilai not 1/32-an. Jika dibandingkan dengan notasi musik Barat, melodiny kelihatan seperti tiller, tapi sebenarnya bukan triller, karena perulangan nada yang dimainkan berupa sekond turun yaitu dari nada f ke nada e, sedangkan melodi triller yang dimainkan dalm musik Barat perulangan nadanya sekon atas yaitu dari e ke f. Oleh karena itu, simbol penulisan grenek melodi yang seperti itu tidak dapat di ganti dengan simbol penulisan triller pada musik Barat kecuali kalau diberi kode tersendiri. Dalam lagu-lagu Melayu bentuk grenek itu ada dua macam yaitu grenek sekon atas dan grenek sekon bawah; grenek sekon atas tenik memainkannya sama dengan triller pada musik Barat dan bentuk yang seperti itu dapat dilihat pada contoh-contoh lagu berikutnya. 

Selanjutnya pada bar ke-3 dapat dilihat contoh rangkaian melodi dalam bentuk kuintol (yang ditulis dengan angka 5 di atasnya) dan bentuk rangkaian melodi seperti itulah yang disebut cengkok dalam musik Melayu. Pergerakan melodinya biasanya melangkah turun tapi dengan lompatan nada turun naik (lihat notasi). Pada notasi di atas dapat dilihat bahwa nada b mau turun ke nada a, tapi sebelum sampai ke nada a ia melompat dulu ke nada c kemudian turun ke nada a, selanjutnya naik kembali ke nada b dan turun ke nada gis, akhirnya bermuara ke nada a. Dalam lagu-lagu Melayu sangat banyak dijumpai bentuk-bentuk cengkok seperti itu yang penempatannya biasanya pada bagian akhir kalimat melodi. 

Melodi cengkok dalam bentuk kuintol di atas bagi seorang pemain biola atau penyanyi Melayu bisa saja diubah menjadi rangkaian nada sektol atau septimol (6 atau 7) nada dalam satu ketukan dengan interval nada bermacam-macam tergantung rasa musikal mereka karena mereka memainkan atau menyanyikan secara improvisasi. Kalau bagi si pemain biola, agar melodi cengkok tersebut kedengarannya lebih indah, biasanya dimainkan dengan teknik gesekan legato yaitu semua rangkaian melodi itu dimainkan dengan satu gesekan atau dengan teknik stacato (gesekan putus-putus) dan bisa juga digabungkan keduanya. Tapi kalau bagi seorang penyanyi, biasanya melodi cengkok tersebut dinyanyikan untuk satu suku kata yang dibawakan dalam bentuk melismatis yaitu menyanyikan satu suku kata dengan banyak nada dalam satu nafas. Teknik garapan vokal seperti itu tidak hanya dijumpai dalam lagu-lagu Melayu, tapi pada lagu-lagu tradisional Minangkabau (dendang) sangat banyak ditemui. Pada cuplikan notasi lagu Buruang Putiah di atas dapat dilihat contoh cengkok melodi dalam bentuk rangkaian nada sektol pada bar ke-6 dan cengkok melodi dalam rangkaian 11 nada pada bar ke-5.

Jika ditelusuri pengertian cengkok dalam pengertian umum sama artinya dengan “bengkok; kelok”2, jadi melodi yang bengkok berkelok-kelok itu merupakan tuntutan estetika musikal dalam membawakan lagu Melayu baik yang dimainkan dengan instrumen maupun yang dibawakan oleh vokal. Pada bagian melodi cengkok tersebut pemain biola berkesempatan mengukir melodi seindah mungkin sesuai rasa musikalnya dalam bentuk rangkaian nada kuintol, sektol, septimol secara spontan. 

Bentuk-bentuk nada hias (ornamentasi) lain yang sering juga digunakan oleh pemain biola dalam membawakan lagu-lagu Melayu adalah berupa appogiatura pendek dan appgiatura ganda yang bentuknya berupa not kecil yang diletakan sebelum nada pokok seperti berikut.



Sebagai contoh pemakaian ornamen melodi bentuk appogiatura pendek dan appogiatura ganda dapat dilihat pada lagu di bawah ini. 



Dalam lagu ini dapat dilihat not-not kecil sebelum nada pokoknya. Hiasan-hiasan melodi seperti itu sangat banyak ditemui dalam melodi biola Melayu dan bagi pemain biola, nada-nada hias seperti itu merupakan hiasan melodi sederhana. Dalam notasi lagu Kaparinyo di atas, ornamen melodinya ada tiga model yaitu bentuk appogiatura pendek, appogiatura ganda dan triller. Di samping itu, ada juga bentuk melodi cengkok dalam rangkaian nada kuintol (lihat bar 10 dan bar 18). Penambahan hiasan melodi dengan appogiatura pendek dan ganda, secara umum dapat dipakaikan pada tempat-tempat melodi yang mendapat ketukan kuat seperti ketukan pertama dan ketiga dalam birama 4/4. Malah sesungguhnya bagi pemain biola Melayu penempatan itu tidak selalu demikian, tapi bisa saja berubah-ubah tergantung pada rasa musikal musisi itu sendiri karena ia bermain secara improvisasi; kadang-kadang bisa saja dimainkan pada nada-nada yang tidak mendapat ketukan (lihat bar 1, 3, dan 4) dan bisa juga dirangkaikan dengan melodi grenek seperti pada bar 14. 

Hiasan melodi berupa appogiatura pendek dan ganda yang tertulis pada lagu Kaparinyo di atas tidak harus dimainkan semua, boleh saja dipilih pada bagian melodi mana yang paling enak didengar telinga pemain biola tersebut; artinya yang prinsip disini adalah pemakaian ornamen dalam bentuk appogiatura pendek atau ganda sebagi hiasan melodi. Pada bagian melodi mana ornamen tersebut dimainkan dilakukan secara improvisasi (spontanitas) oleh pemain biola.

Bentuk-bentuk ornamen berupa appogiatura pendek dan ganda itu biasanya paling banyak digunakan dalam lagu-lagu Melayu tempo sedang (Mak Inang) dan tempo cepat (Joget) sedangkan hiasan melodi berupa cengkok dan grenek banyak digunakan pada lagu-lagu Melayu dalam tempo lambat yang dalam istilah Melayu Deli disebut rentak senandung; dalam lagu Melayu Malaysia dinamakan rentak asli; dan dalam lagu gamat Minangkabau disebut tempo langggam.

Sebenarnya yang memberi karakter gaya Melayu dalam sebuah melodi itu adalah pemakaian cengkok dan grenek yang tepat, dan yang dimaksud tepat di sini bukan berarti permanen (standar) tidak berubah, tapi tepat menurut citarasa estetika musik Melayu. Berikut ini diberikan tiga buah contoh lagu-lagu Melayu dan gamat Minangkabau yang kental dengan cengkok dan grenek.




Pada notasi di atas terlihat sangat banyak bentuk-bentuk melodi yang ditulis dengan not triol 1/32-an. Sebenarnya melodi-melodi tersebut bila dimainkan bunyinya sama dengan grenek pendek (triller pendek).




Dalam lagu ini dapat dilihat betapa kayanya melodi lagu-lagu tradisional Melayu; hampir setiap nada dimainkan dengan cengkok dan grenek dan pada notasi ini dapat dilihat penggunaan cengkok dalam bentuk sektol, septimol dan oktol.



Dalam lagu Pasir Roboh dijumpai grenek melodi yang bergerak ke atas dengan interval nada sekon nauk cis dan d (lihat bar 1), selanjutnya pada bar 9 ketukan ke-3 juga ditemukan grenek melodi yang terdiri dari 9 buah nada, tapi sesungguhnya yang dimainkan oleh pemain biola lebih rapat lagi nadanya daripada itu yaitu sekitar 16 buah nada dalam satu ketukan., jadi nilai notnya sama dengan 1/64 dalam satu ketukan. Akan tetapi, jika pembaca dapat memainkan melodi-melodi di atas seperti yang tertulis dengan biola atau atau keyboard menurut penulis sudah dapat mewakili cengkok dan grenek lagu Melayu.

Kesimpulan
Bentuk-bentuk ornamentasi melodi dalam musik Melayu sering disebut dengan istilah cengkok dan grenek yang fungsinya adalah untuk memperindah jalannya melodi lagu baik yang dimainkan oleh instrumen maupun yang didendangkan penyanyi. Tanpa hiasan cengkok dan grenek melodi itu terasa kering dan kaku, karena itu, bila Anda ingin mempelajari gaya melodi biola musik Melayu, harus mempelajari pola-pola dasar cengkok dan grenek setiap lagu.

Gaya permainan biola dalam musik Melayu dibentuk oleh permainan ornamentasi melodi seseorang yang sebenarnya sulit untuk diseragamkan karena dimainkan dengan teknik improvisasi. Malah tidak perlu diseragamkan sebab akan mematikan kreativitas musikal musisinya. Setiap pemain biola Melayu mempunyai gaya pribadi dalam memainkan improvisasi ornamen melodinya, yang masing-masingnya mempunyai kelebihan. Namun demikian, struktur lagu pokok yang dimainkannya tetap sama.






DAFTAR PUSTAKA

Crickboom, M. (t.t) Le Violon. Bruxelles, Paris.

Harmunah. 1987. Musik Keroncong. Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta.

Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan Malaysia.1976. Siri Lagu-Lagu Rakyat Malaysia 1 & 2.

Lukman Sinar, Tengku. 1990. Pengantar Etnomusikologi dan Tarian Melayu. Perwira, Medan.

Madu Lara, 1984. Dondang Sayang Seni Tradisi Negeri Melaka. Majlis Kebudayaan Negeri Melaka dengan kerjasama Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan Malaysia

Matusky, Patricia dan Tan Sooi Beng, 1997. Muzik Malaysia: Tradisi Klasik, Rakyat dan Sinkretik. The Asian Centre, Penang & Kula Lumpur dengan kerjasama Akademi Seni Kebangsaan, Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Pelancungan Malaysia.

Poerwadarminta, W. J. S , Kamus Umum Bahssa Indonesi. Balai Pustaka, Jakarta, 1987

Rizaldi, “Musik Gamat di Kotamadya Padang: Sebuah Bentuk Akulturasi Antara Budaya Pribumi dan Budaya Barat.” (Tesis S 2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 1994).

Takari, Muhammad. “Musik Melayu: Akar Budaya, Akulturasi, Perubahan, dan Kontinuitas” Makalah yang disajikan pada Seminar Seni Budaya Melayu tgl. 26-28 Mei 2001 di STSI Padangpanjang.

Wan Abdul Kadir, 1998. Budaya Popular Dalam Masyarakat Melayu Bandaran. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur.

Yunus, Mohd. Bin Mahmood. “Musik Melayu Asli dan Permainan Biola dalam Orkes di Kompleks Budaya Negara Malaysia.” (Skripsi S 1 Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1989).

4 komentar:

  1. ada not balok lagu melayu siti nurhaliza gak? kalo ada, tolong di post-kan.

    BalasHapus
  2. ada partitur nada lagu bahtera merdeka gak? please post donk

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Salam, Pak Rizaldi, tulisannya sangat bagus dan berguna bagi banyak orang, Terimakasih pak

    BalasHapus